Selasa, 25 Maret 2014

Musuh-Musuh Dalam Diri Manusia Dalam Ajaran Agama Hindu

Musuh adalah segala sesuatu yang membahayakan, segala sesuatu yang tidak menyenangkan, yang membuat penderitaan, oleh karena itu musuh-musuh itu harus diperangi dan disingkirkan dari dalam diri setiap manusi Dalam agama Hindu dapat ditemukan beraneka maca, bertingkat-tingkat, dan berlapis-lapis musuh-musuh yang ada dalam diri setiap manusia itu sendiri.

Musuh-musuh manusia Hindu yang ada di dalam diri manusia yaitu :
A. Tiga Kotoran Jiwa
(Tri Mala dan Tri Mala Paksa)
Dalam ajaran Hindu, Tiga Kotoran jiwa itu disebut Tri Mala. Tri Mala berarti Tiga Kotoran yang melekat pada jiwa manusia akibat pengaruh buruk dari nafsu yang tak terkendalikan. Tri Mala ini sangat menghambat dan bertentangan dengan etiket pergaulan hidup bermasyarakat. Apabila seseorang tidak waspada, Tri mala itu bisa menghancurkan hidupnya.
  • Tri Mala terdiri dari :
  1. Mithia Hrdaya yang artinya selalu berperasaan dan berpikiran buruk, buruk sangka kepada orang lain.
  2. Mithia Wacana yang artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji (suka ingkar janji).
  3. Mithia Laksana yang berarti berbuat tidak sopan, kurang ajar, hinga merugikan orang lain.
Di samping tiga golongan musuh yang telah diuraikan di atas, masih ada juga tiga musuh yang menghambat perkembangan manusia dalam berjuang melaksanakan Tri Kaya Parisudha (berpikir, berkata, dan berbuat yang jujur dan baik). Ketiga musuh itu dikenal dengan nama Tri Mala Paksa.
  • Tri Mala Paksa meliputi :
  1. Kasmala yaitu perbuatan yang hina dan kotor.
  2. Mada yaitu perkataan, pembicaraan yang dusta dan kotor.
  3. Moha yaitu pikiran perasaan yang curang dan angkuh.
Itulah tiga jenis musuh yang menggerogoti pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, di mana apabila manusia lengah, lemah dan tidak waspada maka kehidupan manusia itu akan hancur kelembah duka dan kesengsaraan.
B. Empat Kemabukan
(Catur Mada)
Buku Sarasamuccaya menguraikan tentang kemabukan ini terdiri dari empat macam yang dikenalkan dengan nama Catur Mada. Catur artinya empat, Mada artinya mabuk. Empat kemabukan adalah musuh manusia di seluruh dunia yang sangat berbahaya dan bersembunyi di hati manusia.
Keempat musuh manusia yang mengundang kesombongan, keangkuhan dan kecongkakan yaitu :
1. Harta Benda/Kekayaan (Dana Mada)
Dana Mada berarti sombong, angkuh, congkak, mabuk dan lupa daratan oleh karena orang kaya banyak hartanya.
Penyakit ini terdapat pada para OKB (orang kaya baru), OKM (orang kaya mendadak) dan AM (aji mumpung).
Orang seperti itu mungkin belum pernah membaca Sarasamuccaya sloka 383 yang berbunyi :
                 Hinya ratnasancayah cubha bhena sancitah,
                 natasnya dehamksaye bhavanti karya sadhakah.
Artinya :
'Sebab kekayaan yang berupa emas, perak, dan lain-lain yang diperoleh dari perbuatan baik autupun buruk, tidak dapat dipergunakan untuk menolak penyakit, usia tua dan maut (kematian)'.
Orang yang mabuk karena harta belum juga membaca sloka 384 yang berbunyi :
                 Anityam yauvanam rupam jivitam
                 dravyasancayah arogyam priyasam paso
                 grodhyedyo nasa panditah.
Artinya :
'Tidak kekallah kemudaan (keremajaan), rupa cantik dan hidup itu, apalagi segala kekayaan seperti emas, perak, pakaian dan sebagainya: ketidaan penyakit (kesehatan) dan hidup berkumpul bekasih-kasihan, semuanya itu tidak kekal, karenanya seorang yang arif dan bijaksana akan semua itu'.
2. Kepandaian (Widya Mada)
Widya Mada berarti sombong, congkak, takabur, karena merasa diri pandai, berilmu. Kekuataan ilmu pengetahuan yang disebut pula "Jnanabala", yang lebih utama dari kekuatan badan jasmani, sebenarnya harus diabdikan kepada pembentukan masyarakat dharmika yang tata tentram kerta raharja gemah ripah loh jinawi dan bukan untuk disombong-sombongkan.
3. Keturunan (Abijana Mada)
Abijana Mada berarti sombong, congkak, angkuh, gila hormat, hanya karena merasa keturunan bangsawan.
Mengenai hal tersebut Sarasamuccaya sloka 161, menguraikan :
           Jyayam samapi cilena vihinam naiva pujayet,
           api cudramtu dharmajnam sadvrttam capi pujayet.
Artinya :
'Meski Brahmana (pinandita) yang berusia lanjut sekalipun, jika perilakunya tidak susila, tidak patut disegani. Bila orang sudra (petani atau pekerja lainnya) sekalipun, jika prilakunya berpegang pada dharma dan kesusilaan, patutlah ia dihormati dan disegani juga, demikian kata sastra suci'.


Ketiga macam musuh-musuh seperti yang telah diuraikan di atas telah di uraikan dalam Sarasamuccaya sloka 337 yang menguraikan sebagai berikut :
Inilah secara singkat hal-hal yang menimbulkan kesombongan pada Si Durjana: Widya, Dhana, Abhijana. Widya artinya ilmu pengetahuan, Widya Mada artinya rasa bangga yang diakibatkan oleh ilmu pengetahuan; Dhana adalah kekayaan emas dan permata, segala rupa kekayaan. Dhana Mada itu disebut kesombongan yang ditimbulkan oleh kekayaan itu. Abhijana, artinya keturuan yang mulia. Abhijana Mada mabuk karena bangsawan. Itulah bentuk-bentuk yang menimbulkan rasa angkuh pada Si Durjana. Sebaliknya kepada Sang Sujana bentuk-bentuk itu menyebabkan timbulnya ketenangan hati.
4. Kekuasaan (Aicwaray Mada)
Aicwarya Mada berarti sombong, congkak, angkuh, gila hormat karena ia memegang kekuasaan. Kekuasaan yang sebenarnya harus dipergunakan untuk melindungi yang lemah, menegakkan hukum, melaksanakan a-bhaya dana, melaksanakan berbagai usaha untuk melenyapkan bahaya, justru disalah gunakannya bagi kepentingan diri sendiri. Hal itu dilakukan orang karena terdorong oleh nafsu loba, hamkara, rakus akan harta.
Demikianlah gambaran keempat jenis Mada yang ada di hati manusia, yang merupakan musuh-musuh atau penyakit yang sangat berbahaya yang bersembunyi dalam hati manusia, seperti semacam penyakit kanker jantung yang sangat kronis sehingga sulit diobatinya.
C. Lima Jenis Racun
(Panca Wisaya)
Yang dimaksud dengan lima jenis racun atau Panca Wisaya itu adalah hal-hal yang tidak baik yang masuk ke dalam diri manusia melalui Panca Indera yang merusak diri manusia.
Kelima jenis racun yang disebut yaitu :
1. Pemandangan porno (cabul)
2. Suara merdu, merayu
3. Bau harum
4. Rasa enak.
5. Sentuhan halus merangsang.
Selanjutnya marilah perhatikan dengan baik mengapa kelima hal tersebut di atas dikatakan sebagai racun/musuh :
  1. Pemandangan porno (cabul) yang dilihat oleh mata dan membangkitkan rangsangan seks pada orang yang melihatnya, hingga ia melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri. Seperti gambar/foto orang telanjang, film cabul, dan sebagainya.
  2. Suara merdu yang dialunkan bersifat rayuan didengar oleh seorang dapat mengakibatkan hal-hal yang negatif, bahkan kadang-kadang fatal bagi pendengarnya.
  3. Bau harum tertentu yang dicium oleh sesorang dapat pula membawa akibat yang tidak dapat dipertanggung jawabkan oleh orang yang mencium bau harum tersebut. Misalnya parfum atau minyak wangi tertentu yang dapat menimbulkan gairah dan rangsangan.
  4. Rasa enak, suatu masakan yang pernah dicicipi atau dirasakan oleh seseorang, menyebabkan orang itu selalu ingin menikmati masakan tersebut (ketagihan).
  5. Sentuhan kulih halus menyebabkan seorang ingin mengulanginya berkali-kali, sehingga ia jatuh kelembah kesengsaraan.
Apabila seseorang kurang waspada, tidak berhati-hati terhadap godaan, rangsangnan, panca Wisaya, yang tiap saat ingin menguasai diri manusia melalui panca indranya, maka orang tersebut akan sengsara, melarat, dan jatuh miskin.
D. Lima M
(Panca Ma)
Panca Ma atau Lima M yaitu Madat, Minum, Metoh, Madon, dan Maling adalah perbuatan-perbuatan yang memungkinkan manusia melakukan hal-hal yang tidak susila dan menjauhkan diri dari jalan yang lurus dan terang benderang menuju alam Moksa. Perbuatan-perbuatan demikian harus dihindari dan dijauhi. Apakah yang dimaksud dengan perbuatan-perbuatan Panca Ma itu?
1. Mengisap Candu (Madat)
Madat adalah mengisap candu yang berlebihan atau melampaui batas kewajaran. Setiap orang harus menjauhkan diri dari madat, mariyuana, morphine, heroine, opium, narkotika, ganja dan sebagainya. Mengenai bahaya dan kerugian tentang narkotika sudah amat banyak diuraikan di surat kabar, majalah dan mass media lainnya.
Perbuatan madat tersebut sangat merugikan pertumbuhan fisik dan mental seorang pecandu narkotika, lebih-lebih bagi anak-anak remaja yang sedang dalam pertumbuhan. Akibatnya yang menyangkut bidang kesusilaan telah banyak diketahui orang seperti : penodongan, perampokan dan jenis-jenis pencurian lainnya. Oleh karena itu sebelum terlanjur menjadi pecandu narkotika jauhilah barang-barang bahaya dan terlarang itu.
2. Minum (Mabuk-mabukan)
Perbuatan orang minum, mabuk-mabukan setarap dengan model yang mengakibatkan perbuatan a-susila. Minum artinya minum minuman keras yang mengandung alkohol tinggi seperti tuak, arak, anggur, brendi, mandrak dan lain sebagainya.
Tentang minum sampai mabuk ini Sang Rama Dewa juga memberikan nasehat kepada adiknya Sang Berata yaitu :
        Dosa agong wwang jenak anginum, mohang
        citta lupa mawero, parusyeng asing winuni wetu.
Artinya :
'Akan menjadi dosa yang besar orang yang doyan minum, menjadi mabuk dan khilap, hatinya pelupa dan gelisah, menjadi orang yang sombong, takabur, angkuh dan jahat dan selalu terangsang, tergoda mengeluarkan inisiatif yang jahat'.
3. Metoh/Memotoh/Main Judi
Bermain judi ini banyak menimbulkan kemungkinan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak susila, maka patutlah judi itu dijauhi, sebab akibatnya adalah penyesalan kelak. Tidak ada orang kaya karena berjudi.
4. Main Perempuan (Madon)
Madon asal katanya "wadon", yang berarti perempuan (wanita). Madon berarti suka main perempuan atau berzina dengan wanita yang bukan istrinya. Oleh karena madon ini banyak kemungkinan akan menimbulkan hal-hal yang melanggar norma-norma kesusilaan, maka para bijaksana menasehatkan kepada setiap orang agar tidak melakukan madon.
Sering terjadi suatu keluarga mengalami peristiwa broken home (retak rumah tangganya) apabila suami/istrinya melakukan perbuatan serong atau madon.
5. Maling (Mencuri)
Maling atau mencuri ini sering diakibatkan oleh salah satu perbuatan atau beberapa perbuatan tersebut diatas. Perbuatan yang sangat tercela ini sangat bertentangan dengan ajaran kesusilaan Hindhu Dharma.
Oleh karena itu, hendaknya dijauhi oleh orang yang masih mendambakan untuk menjadi seorang dharmika. Ingatlah bahwa nama baik adalah harta kita yang paling tinggi nilainnya di dunia ini dan dibawa sampai mati.
Tentang lima M ini Dr. I Wayan Mertha Suteja dalam bukunya Dasar-dasar Kepemimpinan Tradisional di Bali memberikan ulasan sebagai berikut :
Bagi orang pemimpin adalah merupakan pantangan baginya untuk melaksanakan lima Me (Me lima) yaitu : Memotoh (main judi), Metuakan (minum-minuman keras), Memati-mati, Memadat, dan Memitra (madon).
E. Enam Macam Musuh
(Sad Ripu)
Agama Hindu mengajarkan bahwa manusia Hindu mempunyai enam macam musuh yang harus dihancurkan atau dimusnahkan. Keenam musuh itu disebut Sad Ripu. Sad Ripu yang mengandung arti :
Sad artinya enam (6). Ripu artinya musuh; Sad Ripu artinya enam macam musuh yang harus dihilangkan dari diri setiap manusia.
Adapun yang dimaksud dengan enam musuh yang bersembunyi dalam diri setiap manusia adalah :
1. Hawa Nafsu (Kama)
Kama berarti hawa nafsu. Hawa nafsu ini ada pada setiap manusia dan menjadi musuh dari setiap orang. Nafsu yang tidak terkendalikan akan membawa manusia kejurang neraka.
Pada pustaka Sarasamuccaya sloka 105, diuraikan yaitu :
"maka orang yang dikuasai hawa nafsu murkanya, tidak dapat tidak niscaya ia melakukan perbuatan jahat, sampai akhirnya dapat membunuh guru dan sanggup ia 'menunu' hati seorang yang saleh, yaitu akan menyerang dia dengan kata-kata yang kasar."
2. Tamak, Rakus (Lobha)
Lobha atau tamak memyebabkan orang tidak pernah merasa puas akan sesuatu. Orang yang loba ingin selalu memiliki sesuatu yang banyak dan lebih dari pada apa yang telah dimiliki. Bila ia telah memiliki apa yang diinginkannya, maka ia menambah lagi, bahkan dengan jalan yang jahat sekalipun. Akibatnya orang yang demikian itu akan selalu gusar dan gelisah karena didorong oleh kelobaannya. Ia akan tidak pernah merasakan ketenangan sepanjang hidupnya.
3. Marah (Kroda)
Kroda artinya marah. Kemarahan timbul karena pengaruh perasaan loba yang tak dapat dikendalikan, sehingga timbul rasa jengkel, muak, tersinggung dan sebagainya. Orang yang suka marah tidak baik, sebab kemarahaan menyebabkan orang menderita, dan pada umumnya orang tidak senang dimarahi. Sehingga orang yang sering marah akan tidak disenangi orang.
4. Kebingungan (Moha)
Moha artinya kebingungan. Kebingungan dapat menyebabkan pikiran menjadi gelap, sehingga tidak dapat membedakan perbuatan yang baik dan yang buruk. Dan biasanya lebih cenderung untuk melaksanakan perbuatan yang terkutuk seperti : membunuh orang atau membunuh diri sendiri (bunuh diri)
Untuk menghindari kebingungan di dalam menghadapi segala persoalan, maka perlu pengendalian pikiran, kuatkan iman dan harus memiliki rasa pasrah.
5. Mabuk (Mada)
Mada artinya kemabukan. Misalnya mabuk karena minuman keras. Bila minuman ini diminum secara berlebih-lebihan maka akan menimbulkan kemabukan. Kemabukan dapat berakibat jelek seperti; merusak tubuh, merusak urat-urat syaraf dan lain sebagainya.
6. Iri hati (Matsarya)
Matsarya artinya iri hati. Perasaan iri hati ini timbul karena seseorang tidak senang melihat orang lain yang lebih dari padanya atau menyamai dirinya. Ia tidak senang melihat orang lebih bahagia dan lebih beruntung dari padanya. Orang yang demikiang merasa dirinya dikalahkan, lebih rendah, malang dan lain sebagainya, sehingga timbullah maksud dan rencana jahatnya, untuk menecelakakan orang yang dianggap menyaingi dirinya.
F. Enam Pembunuhan Kejam
(Sad Atatayi)
Keenam macam pembunuhan kejam atau Sad Atatayi itu adalah :
1. Agnida, berarti suka membakar
2. Wisada, berarti suka meracun
3. Atharwa, berarti suka melakukan ilmu hitam
4. Sastraghna, berarti suka mengamuk
5. Dratikrama, artinyasuka memperkosa
6. Rajapisuna, artinya suka memfitnah

Itulah keenam sifat sangat terkutuk, yang merupakan semacam kelainan jiwa atau penyakit jiwa yang terdapat pada orang-orang tertentu. Penyakit jiwa seperti tersebut diatas sudah tentu amat menghambat perbuatan susila orang yang mengidap penyakit tersebut.
Perlu kiranya sedini mungkin diusahakan pengobatannya pada seorang Psychiater.
Untuk lebih memperdalam pengetahuan dan pemahaman terhadap perbuatan manusia yang digolongkan sebagai enam perbunuhan kejam marilah kita camkan satu persatu pengertian dari keenam pembunuh kejam yang dimaksudkan diatas. 
 
            1. Suka Membakar (Agnida)
Agnida artinya membakar milik orang lain. Milik orang lain adalah bukan hak milik sendiri, milik orang lain merupakan hak milik orang, dan orang lain pulalah yang mempergunakan dan memeliharanya. Semua orang patut menghormati hak milik orang lain. Setiap orang hendaknya ikut berbahagia apabila orang lain dapat memmiliki sesuatu dan bersyukurlah bila orang lain memperoleh sesuatu . Demikianlah agama Hindu mengajarkan umatnya supaya selalu berbuat luhur dan baik. Tapi sering kali ajaran yang luhur itu dinodai orang karena perasaan iri hati, denki, sentimen pribadi dan macam-macam perasaan lainnya, menyebabkan orang yang demikian itu melakukan perbuatan yang terlarang seperti membakar milik orang. Perbuatan ini digolongkan dalam prilaku yang sangat kejam dianggap sebagai pembunuh. Karenanya kendalikanlah dan kontrollah perasaan serta hindarilah perbuatan-perbuatan yang terlarang ini. 
 
            2. Suka Meracun (Wisada)
Wisada artinya meracun. Perbuatan meracun adalah suatu perbuatan jahat dan terkutuk, perbuatan ini disertai perencanaan untuk membunuh orang dengan mempergunakan alat berupa benda atau obat keras/cetik yang disebut racun. Orang melakukan hal ini disebabkan karena perasaan-perasaan dendam, benci menganggap orang lain itu musuh, penghalang dan lain-lain. Perbuatan ini tergolong perbuatan kejam, tidak berperi kemanusiaan, karenanya dianggap melakukan pembunuhan kejam. Itulah sebabnya perbuatan ini sangant terlarang dan seharusnya tidak boleh dilakukan. 
 
           3. Melakukan Ilmu Hitam (Atharwa)
Atharwa artinya melakukan ilmu hitam. Ilmu hitam (black magic) adalah suatu ilm yang dipergunakan untuk membuat orang lain menderita sakit, orang lain menjadi gila dan lain-lain. Ilmu hitam ini dilakukan oleh orang, karena ia merasa kecewa, merasa dihina, sakit hati, dendam putus asa dan lain sebagainya. Perbuatan dengan melakukan ilmu hitam ini sangant dilarang oleh ajaran agama, karenanya dianggap sebagai suatu pembunuhan sadis. Itulah sebabnya ilmu hitam ini seyogyanya dihindari karena akibatnya adalah akan menimbulkan suatu dosa bagi pelakunya. 
 
           4. Mengamuk (Sastraghna)
Sastraghna artinya mengamuk. Mengamuk adalah perbuatan orang yang sedang bingung, putus asa, karena tidak dapat mencairkan suatu masalah yang menyebabkan buntunnya pikiran dan bilangnya kesadaran.
Perbuatan mengamuk dapat meninmbulkan kepanikan bahkan pembunuhan. Orang mengamuk pada umumnya nekat. Tingkah laku yang demikian kadang-kadang timbul akibat pergaulan dari lingkungan jahat dan kurang terhormat. Oleh karena itu carilah pergaulan yang baik dari orang-orang yang berbudi luhur. 
 
            5. Suka Memperkosa (Dratikrama)
Dratikrama artinya memperkosa. Memperkosa adalah perbuatan yang dilakukan tanpa adanya persetujuan antara kedua belah pihak. Perbuatan memperkosa sama dengan perbuatan binatang, karena binatang melakukan kehendaknya hanya berdasarkan nafsu jahatnya saja. Manusia yang terlibat dalam perbuatan itu, berarti kesadaran pikirannya sudah hilang karena pengaruh nafsu yang tak terkendalikan lagi. Ia lupa dengan rasa malu, harga diri, nama baik keluarganya, karena apa yang dikehendaki oleh nafsunya itulah yang ingin dilakssanakan.
Perbuatan seemacam ini tdiak mungkin akan membahagiakan, bahkan sebaliknya seringkali menimbulkan kesengsaraan. Oleh sebab itu ajaran agama melarang untuk melakukan perbuatan dratikrama ini karena mengakibatkan kericuhan di kalangan masyarakat.

            6. Suka Memfitna (Raja Pisuna) 
Rajapisuna artinya memfitnah. Memfitnah adalah suatu perbuatan yang paling tidak baik. Memfitnah berarti membunuh orang. Memfitnah orang di saat-saat situasi gawat dan panik, dapat membuat hilangnya nyawa seseorang yang tidak bersalah karena ulah dari orang yang menaruh perasaan benci dan dendam pada seseorang. Memfitnah adalah suatu hal di mana orang menjelek-jelekan orang lain demi keuntungan dirinya sendiri. Perbuatan semacam ini tidak dibernarkan, dan bertentangan dengan ajaran agama. Oleh karenanya jauhi dan hindarilah perbuatan Rajapisuna (memfitnah) itu. 
 
Contoh-contoh perbuatan Sad Atatayi, antara lain :
1. Membakar rumah, mobil serta barang-barang milik orang lain.
2. Membunuh orang dengan jalan meracun (nyetik).
3. Menyakiti orang dengan ilmu sihir (ilmu hitam)
4. Merampok/mengamuk
5. Merusak kehormatan orang lain.
6. Memfitnah atau mengadu domba.
Perbuatan Sad Atatayi adalah sangat bertentangan dengan ajraran agama. Perbuatan tersebut termasuk perbuatan jahat (asubhakarma) dan pahalanya adalah neraka atau kesengsaraan.
Dan penjelmaan roh (atma) yang pada waktu hidupnya selalu berbuat asubha karma adalah sangat nista sekali dan deajatnya pun semakin bertambah merosot.
Di dalam Clokantara ada disebutkan :
      Devanam narakan jantur jantunam narakam
      pacuh pucunam narakam nngo mrganam narakam
      khagah.  Paksi namnarakam vyalo vylanam narakam
      damstri.  Damstrinam narakam Visi visinam
      naramarane.
Artinya :
'Dewa neraka (menjelma) menjadi manusia. Manusia menjadi ternak. Ternak neraka menjadi binatang buas, binatang buas neraka menjadi burung, burung nerakan menjadi ular; dan ular yang neraka menjadi bisa (racun) yang dapat membahayakan manusia'.
 
Jadi, sudah jelas pahala bagi seseorang yang berbuat jahat adalaah neraka (kesengsaraan). 
Sedangkan akibat yang ditimbulkan bagi lingkungan adalah keresahan dan ketidak tnetraman bagi masyarakat di sekitarnya.
Disamping yang sudah diuraikan diatas tentang Sad Atatayi yang diartikan sebagai Enam Pembunuhan Kejam; dalam Slokantara Sloka 25 juga diuraikan tentang Sad Atatayi yang diartikan sebagai Enam Penjahat.
 
Inilah isi Slokantara Sloka 25 lengkap dengan uraian penjelasannya :
        Angnido wisadatharwamu castr-ghno
     daratikramah, picunnasta-tra tadradjni sadate
     hyaata-yinah.
        Kalingayang, agnida nga-rayan-wwang
     aunmaninagara, Yandudu makarana ngprang,
     wwang anunwani umah sang dewa sang hyang,
     wwang anunmani umah sang pandita, yeki agnida
     castraghna ngaraya wwang angamuk.  Drcatikrama
     ngaraya wwang angadoni tukar, makadi yang
     picunring sang ratu, sang mantri, magawening ujar
     sang-kaning deca ruga, salwiring ujar irsya,
     magawe kira-kiraning hala, tan tahu asing
     wuwusnya, nicunajuga, wisada ngaraya manupasi.
     Atharwa ngaraya meneluh, andesti, ame-mendem,
     anunibami hala-hala.  Salwiranya akrya hala, yeka
     sadatayi ngaranya tan ulaha-ningjanma, kinela de
     bhatara-yama, innarwekam paranya, yan wuwus
     kinelaring kawah,  sine-rataking bhumi kadi duk
     tinetek, pating samburat tamahnya.  Nihun
     kadadining wwang mangkana.
Artinya :
'Orang yang membakar rumah, suka meracun, dukun jahat, pemerkosa, pembunuh, penghianat. Keenam ini dimasukkan dalam golongan atatayi.
Agnida ialah orang yang membakar rumah atau kota tidak pada waktu perang. Orang yang membakar tempat-tempat persembahyangan, membakar rumah-rumah pendeta juga dinamai agnida. Castragna ialah orang yang membunuh. Dratikrama yaitu orang yang suka melakukan pemerkosaan sampai menusuk dengan keris. Raja pisuna yaitu yang suka mengadu dombakan orang lain untuk berkelahi. Yang nomor wahid dari golongan ini ialah orang yang berkhianat terhadap Raja dan mantrinya hingga kata-katanya itu dikeluarkan karena iri hati. Ia melakukan kecurangan ini dengan maksud busuk, apa yang dikatannya dusta belaka. Dialah penghianat terbesar. Wisada artinya orang yang suka meracun orang lain. Atharwa yaitu orang yang suka melakukan ilmu sihir, memasang guna-guna, pasangan-pasangan (umpamanya memendem tulang manusia dan jika dilahgkahi atau diinjak menyebabkan sakit atau gila). Dan selalu menyakiti orang-orangyang tidak bersalah. Segala perbuatannya jahat. Keenam macam manusia ini di golongkan dalam enam atatayi'.
 
Keenam macam pekerjaan ini harus dihindari oleh manusia waras, karena sudah pasti perbuatan itu akan menyeretnya kelembah neraka dan akan dianiyaya berat oleh Dewa Yama. Demikian kata kitab suci. Setelah mereka dimasak hidup-hidup dalam api neraka, mereka akan disorakkan ke bumi ini sebagai menyorakkan serabut remuk.
Dikatakan bahwa jiwa itu setelah menerima gambaran di neraka, diserahkan ke bumi ini sebagai menyerahkan ampas tebu saja. 
 
Pada buku Kuncara Karna (susunan DR. H. Korn) tertulis penjelasan begini:
Bagaimanakah sifat-sifat orang candala? Beginilah sifat-sifat orang candala :
"Ia dilahirkan di zaman Kali Yuga. Ia suka menjahati orang-orang yang tak bersalah. Ia menuduh jahat orang-orang yang baik. Dan ia jahati orang-orang yang saleh. Ia mencuri, ia suka menganiaya, ia kasar dan pemarah, ia suka merampok, ia suka memenggal, ia membunuh, ia suka memancung, ia suka menikam dengan keris, ia pandai membuat racun dan meracuni diri sendiri, ia suka melakukan sihir, memasang guna-guna, suka memfitnah, dan menggunakan kata-kata kasar tak patut didengar telinga, selalu memasang mata kepada orang-orang kaya, dengki kepada orang-orang berbahagia, ingin pada milik orang lain, tidak ambil pusing kepada orang-orang melarat, sering menghina orang-orang pertapa serta menjelek-jelekkan dharma. Ia melakukan delapan macam perbuatan yang jahat, kedelapan macam pencurian, dan keenam macam penaniayaan, ia cendrung memmbunuh sapi, orang Brahmana, Sarjana, Rsi, pengikut Ciwa dan Budha. Ia juga tak segan membunuh guru dan orang tua, ia rusak kuil (pura) dan mengambil segala perhiasan arca-arca. Ia tak segan menganiaya guru serta siswa-siwanya. Laki perempuan melakukan perbuatan kelamin terlarang (homosexual). Ia melakukan perkosaan terhadap ibunya, memaksa anak putrinya, tidak ada raja, tidak ada pendeta, tidak ada tempat memuja leluhur (pemerajan), tidak ada pura untuk Tuhan. Inilah perbuatan pemusnah di zaman Kail Yuga. Tidak ada tinggi atau rendah. Di seluruh dunia mengamuk halilintar dan angin puyuh. Tanam-tanaman palawija hampa mati. Di seluruh negara peperangan, perang saudara, petani-petani dalam kesedihan. Adat dan agama selalu dirusak dan dilanggar. Kata-kata hancur, penyakit menular menjangkit. Di samping itu di mana-mana terjadi kebodohan. Kebanggaan anak-anak ialah dalam melanggar petunjuk-petunjuk orang tua. Tidak hormat ditujukan kepada orang tua, keluarga atau sanak saudara. Semuanya menggelisahkan dan membingungkan. Demikianklah pikiran manusia di zaman Kali Yuga yang sudah berlarut-larut dan bagi mereka yang berbudi luhur dan mempertahankan keluhuran dharma janganlah hendaknya bergaul dan berminat pada segala perbuatan jahat manusia di zaman Kali Yuga".
G. Tujuh Macam Kegelapan
(Sapta Timira)
Yang dimaksud dengan tujuh macam kegelapan atau kemabukan di dalam agama Hindu disebut Sapta Timira adalah :
1. Surupa berarti rupa tampan, ganteng, cantik.
2. Dana berarti kekayaan.
3. Guna berarti kepandaian.
4. Kulina berarti keturunan bangsawan.
5. Yuwana berarti keremajaan.
6. Sura berarti keberanian.
7. Kasuran berarti kemenangan.
Ketujuh hal tersebut sering menyebabkan orang menjadi sombong, angkuh, congkak, bangga luar biasa, mabuk, lupa daratan. Itulah musuh-musuh manusia yang amat berbahaya dan dapat membuat orang tidak susila.
Agar dapat memahami lebih jelas ketujuh macam kegelapan, marilah kita ikuti penjelasan berikut ini.
Surupa artinya kecantikan atau kebagusan. Kecantikan dan kebagusan itu dibawa sejak lahir dan merupakan anugrah Hyang Widhi (Tuhan) yang maha pengasih dan penyayang.
Bagi orang yang memiliki ini boleh merasa beruntung atas anugrah serta kasih sayang Hyang Widhi, namun tidaklah patut bangga dan takabur atas kecantikan dan kebagusan yang dimiliki itu, karena itu sifatnya maya dan tidak kekal. Ketampanan yang dimiliki seharusnya disertai keluhuran budi. Hendaknya Surupa itu tidak dibiarkan sebagai bidang keladi menuju kehancuran.
Dhana artinya kekayaan. Kekayaan sungguh berguna bagi siapa pun. Setiap orang menginginkan hal itu, karenanya orang berusaha dengan bekerja keras untuk dapat memiliki kekayaan itu. Namun harus dilandasi dharma. Kekayaan itu disebut harta, meliputi pangan, sandang, dan papan. Kekayaan itu sangat besar gunanya namun besar juga godaan-nya. Oleh karenanya bagi orang yang memiliki kekayaan hendaknya dapat mempergunakan kekayaan itu dengan tepat sesuai menurut ajaran agama.
Kekayaan yang diperoleh berdasarkan ajaran agama dan dipergunakan sesuai menurut ajaran agama adalah kekayaan yang mempunyai arti dan nilai mulia.
Tapi sering kali kekayaan yang dimilik oleh seseorang dapat pula menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Karena pengaruh kekayaan orang sering menjadi sombong, angkuh, menghina orang lain, mengumbar nafsu dan lupa diri karena kekayaan ini.
Sebenarnya kekayaan itu tidak kekal adanya. Kekayaan itu adalah anugrah Tuhan karenanya patutlah diperlihara, dan dikembangkan untuk diyad-nyakan pada orang yang sangat memerlukan kesejahteraan hidup bersama.
Guna artinya kepandaian. Kepandaian dicari oleh semua orang. Orang inging menjadi pandai, karena kepandaian dapat meringankan seseorang di dalam ia menempuh segala macam bentuk suka dukanya kehidupan di dunia ini.
Disamping dapat menolong, kepandaian dapat juga membahayakan orang. Sering pula dengan kepandaian orang melakukan prilaku yang dilarang agama, misalnya menipu, memperalat orang, memfitnah , mengacau, membuat isu-isu, korupsi dan lain sebagainya, yang dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Demikianlah jika kepandaian itu dimilik orang orang-orang yang berada dalam kegelapan, maka menimbulkan keburukan dan membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.
Kulina artinya keturunan. Keturunan mempunyai arti karena dari keturunan ia akan dapat dikenal siapa sebenarnya dia itu. Orang itu dipandang terhormat disegani dan dipercaya, karena berasal dari keturunan orang-orang dikenal, berjasa, baik budi, karyanya dapat dinikmati oleh orang banyak dan bermanfaat bagi semua orang. Karena keturunan dari orang-orang yang dianggap berjasa seperti itu, sampai pada anak cucu dan buyutnya mendapat penghormatan dan disegani akibat ulah dari leluhurnya. Sering kali dari adanya keturunan ini, orang merasa bangga akan dirinya karena merasa keturunan orang terhormat, terkenal dan lain sebagainya, dengan kebanggaan ini lalu ia merasa dirinya berderajat tinggi, sehingga ia menjadi sombong, angkuh dan kemudian menghina orang lain serta mengangap orang lain itu rendah dan bodoh. Perbuatan yang seperti itu adalah sungguh sangat tercela dan akibatnya orang tersebut tidak disenangi oleh orang banyak dan masyarakat.
Yowana artinya masa remaja/muda. Masa muda/remaja ini penuh dengan kegairahan hidup, masa gemilang penuh kreatifitas, masa kekuatan dan kecerdasan sedang hebatnya.
Masa muda/remaja inilah yang sebenarnya dipakai kesempatan untuk berbuat banyak terhadap keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa. Tetapi jika di masa muda ini belum memiliki pendirian yang kuat, masih bimbang, ragu, goyah, belum ada keseimbangan sehingga perbuatan yang dilakukan sering kali tidak terarah, ia hanya berbuat untuk menarik perhatian orang lain. Tindakannya pun sering keliru, seperti melanggar kesopanan, melanggar kesusilaan dan sebagainya sehingga dapat merugikan orang lain dan juga dirinya sendiri.
Dalam hal ini Sarasamuccaya memberikan pedoman :
Pergunakan masa mudamu dengan sebaik-baiknya, masa inilah masa menuntut ilmu, masa bekerja yang keras, menciptakan sesuatu yang berguna. Janganlah angkuh dan sombong karena keremajaan ini, dan harus disadari karena semua itu tidak kekal dan bersifat maya belaka, maka dari itu budi luhurlah yang harus dipupuk dan dikembangkan.
Sura artinya minuman keras. Yang termasuk minuman keras antara lain : tuak, bir, alkohol dan lain-lainnya. Minuman ini bila diminum secara berlebihan akan menyebabkan mabuk, dan berakibat merusak saraf.
Bila saraf terganggu maka pikiranpun menjadi tidak waras. Ketidak warasan pikiran menimbulkan tindakan yang tidak terpuji, sering kali orang yang mabuk mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, sehingga tidak jarang lalu timbul perkelahian, keributan dan lain sebagainya. Oleh karena itu waspadalah terhadap minuman keras, jauhilah minuman yang merusak yang bisa mengakibatkan hilangnya kesabaran.
Kasuran artinya keberanian. Setiap orang eprlu memiliki keberanian. Tanpa adanya keberanian orang akan merasa menderita. Hidup ini adalah suatu perjuangan, oleh karena itu kebenranian itu sangat diperlukan. Keberanian di sini dipergunakan untuk dapat mengatasi liku-liku kehidupan seperti : keberanian dalam mengatasi penderitaan, keberanian membela dan mempertahankan kebenaran dan lain sebagainya. Dan hendaknya keberanian itu selalu dilandasi oleh dharma. Orang tidak layak mabuk karena keberanian, sebab keberanian hanya karena berani saja tanpa dilandasi adanya kebenaran adalah keliru dan dipandang salah. Keberanian adalah untuk membela yang benar sesuai dengan ucapan : "Satyam Ewam Jayate na nrtam"
Artinya : kebenaran selalu menang dan bukan kejahatan.
H. Delapan Pembunuh/Delapan Pencuri
(Asta Dusta/Asta Cora)
Dalam buku Slokantara disebutkan bahwa Asta Dusta itu adalah :
1. Himsaka - membunuh atau menyuruh orang untuk membunuh.
2. Codaka - memaksa dengan kekerasan.
3. Bhoktah - memuaskan hawa nafsu dengan sepuas-puasnya.
4. Bhojekah - memberi makan pada pencuri.
5. Sakarakah - mengikuti dan menolong si pembunuh.
6. Pritikara - berhubungan erat dengan pembunuh.
7. Sthanadha - memberi perlindungan pada pembunuh.
8. Tretah - memberi perlindungan pada pembunuh.
Astacora adalah :
1. Orang yang melakukan pencurian.
2. Orang yang menyuruh orang lain untuk membunuh.
3. Orang yang memberi tempat persembunyian.
4. Orang yang memberi makan pada pencuri.
5. Orang yang berhubungan erat dengan pencuri.
6. Orang yang memberi tahu seorang pencuri dalam bahaya.
7. Orang yang menolongnya melakukan pencurian.
8. Orang yang melindungi dan menyembunyikan pencuri.
Sebagai imbangan dapatlah dikutipkan disini perincian astadusta dalam kita Agama karangan Dr. Jonker, yang berbunyi :
"Ring astadusta waraha ken : amatoni Wong
tanpa dosa.  Akon amatoning Wong tanpa dosa.
Angamini Wong tanpa dosa.  Akembulan pangan
lawan dustan.  Sapaduluran sparana lawanadusta.
Aweh gnah ring dusta.  Atulung dusta".
Artinya :
'Kedalam astadusta dikatakan masuk : orang yang membunuh orang yang tak berdosa. Menyuruh membunuh orang yang tanpa dosa. Melukai orang yang tanpa dosa, makan bersama-sama dengan pembunuh. Memberi tempat perlindungan pada pembunuh. Menolong pembunuh'.
Selanjutnya dijelaskan lagi bahwa :
"Iku asta dusta, kang telu; dosa pati; kang
lalima Amakeni wong tanpa dosa, akan
amaatenanaw wong tanpa dosa, anganini wong
tanpa dosa, dusta telu iku.  Yan ayekti sachina, katlu
dusta atoh awake..."
Artinya :
'Itulah semuanya astadusta. Yang tiga dosa, yang lima dosa, membunuh orang yang tanpa dosa, menyuruh bunuh orang yang tanpa dosa, melukai parah orang yang tanpa dosa, itu semuanya tiga dosa. Jika dosanya terbukti, ketiganya harus dihukum mati karena ketiganya itu dosa yang harus dibayar dengan jiwa'.
Dalam kitab Vrticasana (Kirtya IIb 78/1) dikatakan :
"Kartakarayita bhoktah, nidrstah sthanadasakah;
trajnah tat ca goptacca, astacorah wedasamrtah,
Ka wwalu kehning maling, Nga, mangalap,
anuduhaken, maweh pangan, maweh unguhun,
analungi, maweh wruha, ring maling
mangini-daken, nahan tang sinanggung
astacora, nga".
Artinya :
'Mengerjakan pencurian, menyuruh, memberi makan, memberi tahu, memberi temapt, berkawan, melindungi, menyembunyikan, ini astacora harap diingatkan'.
I. Sepuluh Kotoran Bathin
(Dasa Mala)
Sepuluh kotoran bathin yang melekat pada diri umat manusia adalah merupakan raga di musuh yang sangat dekat tempatnya yaitu : pada mata hati, mata bathin manusia. Sepuluh kotoran bathin yang dikenal dalam ajaran Hindu sebagai Dasa Mala harus disingkirkan, dijauhkan, dihancurkan dan dikikis habis dari diri manusia oleh manusia itu sendiri.
Dasa Mala merupakan penghambat jalan menujur hidup bahagia dan sejahtera lahir dan bathin bagi setiap orang. Dasa Mala adalah semacam penyakit gangguan kelainan jiwa, cacat mental, cacat karakter, cacat watak, cacat perangai, dan banyak lagi istilah lainnya.
Penyakit jiwa ini adalah suatu penyakit yang telah ada bibitnya pada diri seorang anak yang baru lahir. Tergantung daripada lingkungannya kini, apakah bibit itu akan tumbuh dengan subur atau akan tumbuh secara merana dan akhirnya akan lenyap sama sekali. Jadi yang menentukan nasib penyakit itu adalah pembawaan, lingkungan dan pendidikan.
Dasa Mala itu terdiri dari :
1. Tandri adalah sejenis penyakit jiwa yang terdapat pada seseorang, yang selalu beralasan dirinya sakit, yang disebut Empat L (lemah, lemes, letih dan lesu). Ini biasanya dicari-cari untuk menghindari kegiatan sosial, misalnya.

2. Kleda, yaitu orang yang selalu menyesali dirinya, lekas putus asa apabila tidak tercapai apa yang dikehendakinya. Orang demikian sangat lemah semangatnya, pesimistis, tidak ulet dalam usahanya atau perjuangan hidupnya.

3. Leja, artinya orang yang bersifat tamak (loba) sombong, congkak, angkuh (premada).

4. Kuhaka, yaitu orang yang suka mengeluarkan kata-kata kasar, suka menyombongkan atau memuji diri sendiri, menghendaki istri orang lain, jahat hatinya.

5. Metraya, orang yang suka dan pandai bersilat lidah, berolok-olok dengan daya upaya untuk dapat mempengaruhi kawan atau orang lain untuk kepentingan jahat.

6. Megata, adalah orang yang mempunyai sifat rendah, plintat plintut, munafik, lain dimulut lain dihati.

7. Regastri, yaitu orang yang sangat kelekatan cinta asmara terhadap sembarang wanita (play boy), mata keranjang.

8. Kutila, artinya orang yang suka menipu, bersikap plintat-plintut.

9. Bhaksabhuwana, adalah orang yang suka menyakiti atau menyiksa sesama hidup, senang melihat orang lain menderita. Sangat bertentangan dengan ajaran ahimsa atau "Amrih Sukaning Len". Orang ini suka makan dan minum, angkuh serta angkara (egoistis).

10. Kimburu, yaitu orang yang bersifat dengki, iri hati, ingin mendapatkan harta kekayaan orang Sadhu (berbudi baik). Dengan berbagai-bagai cara manipulasi, berkomplot, diusahakan agar hak milik orang lain jatuh ketangannya.
J. Sifat Keraksasaan
(Asuri Sampat)
Sifat-sifat keraksasaan atau asuri sampat ialah sifat-sifat yang bertentangan dengan sifat-sifat kedewataan. Asuri atau asura berarti sifat-sifat yang serba jahat seperti setan, iblis, raksasa, dan sebagainya.
Sifat-sifat manusia yang dilahirkan dengan sifat-sifat asura sebagai wujud setan, raksasa, iblis yang serba jahat itu ialah suka berpura-pura, dharmalika, munafik, angkuh, marah, kasar, membanggakan diri dan kekayaan.
Seperti yang telah diungkapkan pada pustaka Bhagawadgita XVI yaitu:
"Berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh, semuanya ini adalah dimiliki oleh dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat setan, wahai Parta".
Pada buku Sarasamuccya nafsu jahat manusia diandaikan lebih jelek dari pada benda besi. Sebagaimana dipaparkan dalam Sarasamuccaya 358 yaitu :
"Ada lebih baiknya besi daripada pekerti si penjahat, sebab besi itu dapat dilekukkan, dapat disambung, dapat cair jika dipanaskan, tidaklah demikian halnya pikiran manusia jahat yang amat kaku".
Masih banyak lagi sebenarnya contoh-contoh perbuatan, sikap dan tindakan seseorang yang bisa digolongkan sifat keraksasaan, kejahatan. Beraneka ragam perbuatan dilakukan oleh seseorang demi untuk kepentingan diri sendiri dengan tidak menghargai dan tidak memperdulikan hak dan keberadaan orang lain.
Seseorang tidak ambil peduli, sampai hati menyakiti orang lain bahkan bukannya tidak mungkin sampai menghancurkan atau membunuh dengan tujuan memenuhi keinginan pribadinya. Inilah ironi suatu kehidupan indra, mata seseorang dapat lihat keberadaan orang lain, tetapi mata nafsunya sering kali tidak mampu melihat kehadiran orang lain, termasuk keluarganya sendiri. Mata nafsunya melihat dan selalu inging melihat kenikmatan-kenikmatan indriawi.
Mesikipun di tengah-tengah keluarganya sendiri, apalagi di tengah-tengah masyarakat, mata-nafsu itu selalu mencari kenikmatan. Mata nafsu tidak bisa menghargai hak dan keberadaan orang lain. Yang bisa dihargai hanyalah hak dan keberadaan dirinya sendiri. Mengapa demikian? Ajaran agama Hindu menunjukan bahwa penyebabnya adalah pikiran yang diliputi kegelapan atau ketidak tahuan. Pikiran yang sedang gelap tidak mungkin mengetahui tentang kebenaran dalam kehidupan ini.
Demikian juga sebaliknya pikiran yang tidak mempunyai pengetahuan tentang kehidupan ini akan selalu diliputi kegelapan. Pikiran gelap inilah yang mempunyai indria mata yang disebut mata nafsu. Pikiran bermata-nafsu tidak mampu melihat kenyataan hidup ini.
Pikiran seperti itu mempunyai ukuran nilai sendiri untuk menilai segala sesuatunya. Satu-satunya ukuran yang dipakainya tidak lain adalah aku, diriku, dan milikku
Penutup
MANUSIA akan mengalami problema demikian sepanjang zaman. Kegelapan, keakuan, dan kehancuran. Bila seseorang tidak berusaha mengatasi kegelapan dan keakuannya maka sifat seseorang itu akan menghancurkan dirinya sendiri.
Keakuan akan membakar setiap orang dengan keserakahan, iri hati, kebencian, kejengkelan, dendam, dan kejahatan. Tidak hanya membakar dirinya sendiri, keakuan yang dibiarkan tumbuh akan menyebabkan malapetaka dan kehancuran bagi orang lain. Tindakan apa pun akan dilakukannya demi kenikmatan dirinya. Timbullah kemudian pencurian, perampasan hak, persaingan tidak sehat, perkosaan, kekerasan, kekejaman, bahkan pembunuhan. Demikian juga pertengkaran, perkelahian, sampai peperangan yang silih berganti.
Semuanya menghancurkan keberadaan dan kesejahtraan orang banyak. Semuanya timbul karena keakuan seseorang yang bertambah besar, yang tidak pernah disadari, dan tidak pernah diatasi. Seseorang ingin mencari sebab kejahatan apa pun di dunia ini, yang begitu banyak dan begitu sering menimbulkan kesedihan dan kesengsaraan; penyebabnya adalah tiada lain rasa keakuan, kecongkakan, kesombongan dan sebagainya itu.
Karena itulah, tantangan dan sekaligus tuntutan terbesar bagi setiap manusia sebagai umat beragama adalah menaklukkan dirinya sendiri. Menaklukkan diri sendiri adalah menaklukkan tumbuhnya keakuan yang menuntut kenikmatan dengan tidak mempedulikan keberadaan dan kesejahtraan orang lain.
Dalam Sarasammucaya telah ditegaskan bahwa kemenangan terbesar dari seseorang bukan menaklukkan orang lain, melainkan sebaliknya, menaklukkan keakuan dirinya sendiri.
Meskipun seseorang berhasil menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya yang disebut penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan musuh-musuh pada dirinya sendiri.
Menaklukkan musuh-musuh pada diri sendiri sesungguhnya lebih baik daripada menaklukkan musuh di luar dirinya. Orang yang telah menaklukkan musuh dalam dirinya berarti telah dan selalu dapat mengendalikan musuh-musuh dalam dirinya.
Kesombongan, keserakahan atau kebencian yang bersumber dari keakuan dan bermuara pada kejahatan, mendorong seseorang untuk menaklukkan orang lain. Akibat kejahatan ini adalah kepuasan hawa nafsu bagi dirinya sendri dan kesengsaraan bagi orang lain. Sedangkan kepuasan hawa nafsu itu sendiri pasti membuat seseorang selalu terangsang, gelisah, dan cemas.
Sebaliknya apabila seseorang dapat menaklukkan keakuan dengan pengendalian diri dan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam diri seseorang serta membawa manfaat bagi orang lain, akan memberikan kedamaian bagi seseorang, keluarganya, dan juga masyarakat, bangsa, maupun negara.
Demikianlah beberapa jenis musuh menurut ajaran Hindu, atau musuh-musuh yang ada pada diri manusia. Musuh-musuh tersebut sering membawa manusia ke lembah penderitaan, sengsara dan berakibat dosa bagi dirinya. Oleh karena itu musuh-musuh itu harus dihilangkan.
Adapun senjata pamungkas yang paling ampuh untuk menghilangkan, menghancurkan musuh-musuh tersebut adalah dengan menghayati ajaran agama dan mempertebal sradha, keimanan kepada Hyang Widhi Wasa (Tuha Yang Maha Esa), dan mengamalkan ajaran Tri Kaya Parisuda dengan pemahaman dan pengamalan 10 pengendalian diri.
Kesepuluh pengendalian diri ini dalam Sarasamuccaya disebut Karmapatha. Hal ini diuraikan dalam Sarasamuccaya sloka 73 yaitu :
Karmapatha namanya, yaitu pengendalian hawa nafsu, sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan, perinciannya: gerak pikiran tiga banyaknya, perilaku perkataan empat jumlahnya, gerak tindakan tiga banyaknya, jadi sepuluh banyaknya perbuatan yang timbul dari gerakan badan, perkataan dan pikiran, itulah patut diperhatikan.
Karmapatha secara rinci diuraikan pada Sarasamuccaya sloka 74, 75, 76 sebagai berikut :
"Tindakan dari gerak pikiran terlebih dahulu akan dibicarakan tiga banyaknya, perinciannya yaitu : satu, tidak ingin dan dengki pada kepunyaan orang lain; dua, tidak besikap ganas kepada semua makhluk; tiga, percaya akan kebenaran karmapala. Itulah ketiganya perilaku pikiran yang merupakan pengendalian hawa nafsu".
Berikutnya mengenai perilaku dari kata-kata diuraikan : "Inilah yang tidak patut timbul dari kata-kata, empat banyaknya yaitu : Perkataan jahat, perkataan kasar, menghardik, perkataan memfitnah, perkataan bohong (tidak dapat dipercaya); itulah keempatnya yang harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan dipikir-pikir akan dicuapkan".
Sedangkan yang termasuk gerak tindakan yang tidak patut dilakukan yaitu :
"Membunuh, mencuri, dan berbuat hina. Ketiganya itu hendaknya jangan dilakukan kepada siapapun baik secara berolok-olok (bersanda gurau), baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat, dalam khayalan sekalipun, hendaknya dihindari saja ketiganya itu"


1 komentar:

  1. situs poker online terpercaya, dewa poker, texas poker, poker club,judi bola online,poker online indonesia, daftar situs poker online indonesia
    poker 88,situs poker online indonesia uang asli,situs poker online terpercaya, dewa poker, texas poker, poker club,poker online indonesia
    nice post....
    article yang menarik untuk dibaca dan bermanfaat...
    maju terus sob,,,
    kunjungi blog saya juga ya sob, http://chaniaj.blogspot.com
    dan kunjungi juga situs kesayangan kami http://www.oliviaclub.com/oliviaclub/index.php
    link alternatif http://www.oliviaclub.net/oliviaclub/index.php
    oliviaclub poker online uang asli indonesia terbaik dan terpercaya
    Poker Indonesia, Indonesia Poker, Poker Online Indonesia
    yuk,,buruan gabung,,ada bonus nya lho,,,,

    BalasHapus